Pagi tadi terbangun dengan rasa kebelet pipis, hidung tersumbat, dan leher pegal… serta sisa mimpi yang sama anehnya dengan waktu demam itu.
Dalam mimpi yang ini, settingnya di sebuah rumah bertingkat yang halaman belakangnya langsung pantai. Di satu adegan dalam mimpi itu, waktu sedang berusaha mencari adikku dari atas balkon dengan mata menelusuri pantai, aku malah jadi tertarik untuk turun. Waktu hampir sampai, aku melihat puluhan kura-kura peliharaanku (kura-kura brazil) lepas berkeliaran, semua bergegas menuju laut yang sedang menggelora. Aku masih sempat berpikir, kok sekarang ada tambahannya ya, kura-kura yang masih imut2.
Karena aku gak sabar, sedangkan aku ingin segera merasakan kura-kura itu meluncur dari tanganku ke dalam laut, aku meraih salah satu dari mereka. Biasanya tinggal pegang tempurungnya aja. Tapi saat itu mereka yang biasanya lamban menjadi bergerak gesit sekali, selalu luput dari tangkapanku. Waktu akhirnya seekor yang cukup besar berhasil kugencet, dia meronta-ronta liar, dan waktu kupegang tempurungnya… weks, dia menggeliatkan lehernya dan menggigit jariku!!
Tiba-tiba adegan berganti….
Aku berada di salah satu ruangan (masih di bagian belakang rumah yang menghadap pantai), kemudian tiba-tiba muncul sekelompok orang (seolah muncul dari laut, wong belakang rumah itu gak ada jalan). Setelah dekat, betapa girangnya aku karena ternyata mereka adalah para seniorku di KMK Poltek ITB!! Wiiihhh… surprise, kok bisa ketemu di sini ya? Aku bersalaman dengan mereka satu persatu. Senyum terpatri di wajahku setiap kali menyapa mereka. Girangnya tak kepalang. Aku baru menyadari betapa kangennya aku dengan mereka. Sedapat mungkin aku menyapa tiap orang, berbagi cerita dan bertukar pertanyaan.
Gak lama kemudian, muncul makin banyak orang, makin rame bergabung dengan senior2ku ini. Inget ya, tadinya ini di rumahku (aku berasumsi demikian).
Adegan berganti lagi dengan sangat tidak mulus….
Tiba-tiba di sisiku ada beberapa teman (tapi entah siapa) yang melancarkan protes karena kedatangan mereka (yang rupanya untuk mengadakan latihan di salah satu ruangan rumah bertingkat tepi pantai tsb) mengganggu jadwal kami sendiri untuk latihan. Atau kasarnya ruangan kami direbut. Anehnya para pendatang itu sikapnya seperti yang sudah punya hak, seperti penyewa begitulah. Waktu seorang temanku hendak melabrak mereka, aku melarang dia dengan keras, “Awas, kamu jangan ikut campur, karena kita gak punya hak. Ini bukan rumah kita! Biar si Anu yang tanganin.” (Nah lho, mimpi yg aneh, padahal awalnya aku ngerasa ini rumahku.
).
Aku mengusulkan kita pake ruangan di lantai atas aja.
Berikutnya, setelah teman-temanku pergi, aku kembali ke ruangan para seniorku itu dengan maksud ingin ngobrol lebih banyak.
Waaaahhh… ternyata ruangannya sudah disulap jadi indah banget. Bunga dan tanaman di mana-mana, panggung dan kursi tertata rapi, paduan suara sedang berlatih lengkap dengan alat musiknya, pintu-pintu imajiner didirikan (sehingga seolah2 ruangan tsb adalah sebuah gedung, bukan hanya sebuah ruangan kecil). Lantainya dibuat berundak. Langit-langit menjadi jauh lebih tinggi. Kain-kain menjuntai dari atas. Benar-benar seperti sulap. Hanya dalam hitungan menit, aku menyaksikan ruangan itu bermetamorfosa di depan mataku.
Dan lalu seorang senior menghampiriku. Dia bilang, mereka bisa share ruangan dengan kami. Mereka akan latihan di sesi pertama dan ketiga, dan kami (aku dan teman2ku) bisa menggunakan sesi kedua. Sesi kedua adalah antara jam 1 siang sampai jam 6 sore.
Gembira dengan ide tsb, aku lalu bergegas ingin mencari teman-temanku di lantai dua. Tapi… eng ing eng… aku gak bisa menemukan jalan keluar dari “gedung” ini. Ingat bahwa ada pintu-pintu imajiner? Waktu aku keluar dari salah satu pintu yang kuasumsikan mengarah ke dalam rumah (keluar dari “ruangan” yg telah berubah menjadi “gedung” ini), ternyata aku malah nyampe di pantai.
So aku mencoba pintu lain…. dannnn….
… lanjutan mimpinya aku gak ingat lagi. Atau mungkin aku terbangun pas di situ.
Yang kutuliskan sekarang tidak sedetail mimpi sebenarnya. Karena sulit merangkaikannya dalam satu paragraf. Ada adegan seorang pria berpenampilan seperti campuran pastor dan peri yang dengan ringan memanjat ke langit-langit membawa sehelai kain (berikut terompet?) kemudian menyampirkan kain tsb di seutas benang tak kasat mata, lalu… sreett … dia melambaikan tangannya di atas kain tsb… dan sang kain satin pun berkibar dengan luwesnya, menjuntai dari ketinggian nun di atas sana.
Waktu mencari adikku di pantai, mataku juga menangkap orang-orang yang berenang bergrup-grup di sana sini. Ada yang berselancar, ada yang berperahu, ada yang hanya main air. Kegiatan itu yang menggodaku untuk turun ke pantai juga.
Adegan-adegan mimpi yang lain mungkin masih ada, tapi ingatanku sudah samar-samar sekarang. Yang jelas sisa emosinya yang masih terasa. Emosi-emosi yang kuat. Ketika gembira bertemu senior2ku, ketika beradu argumentasi dengan temanku waktu dia mau protes, ketika takjub dengan interior ruang/”gedung”, ketika menggencet kura-kura, ketika digigit kura-kura, juga ketika menyaksikan laut yang sedang menggelora dengan latar belakang langit mendung.
Aku jadi penasaran, besok aku bakal mimpi apa lagi ya?


semoga besok…bermimpi yang lebih keren…hehueheu
mimpi yang baik-baik mbak..heuehueheuhe